Lolos ke 12
besar menjadi pencapaian terbaik, dengan persiapan mepet yang dilakukan PSIS.
TARGET kembali
ke kompetisi kasta tertinggi hampir dipastikan gagal dicapai. PSIS pun harus
membayar mahal start lambat saat meramu tim menuju kompetisi Divisi Utama 2013.
Dari tiga pertandingan di babak 12 besar,
Laskar Mahesa Jenar belum juga meraih kemenangan sehingga berada di posisi juru
kunci Grup B. Bahkan, target juara Grup II yang dicanangkan di awal musim juga
gagal tercapai.
Jika merunut ke belakang, mepetnya
persiapan yang dilakukan PSIS menjadi salah satu penyebab kegagalan musim ini.
Firmandoyo baru melakukan seleksi pemain pada awal Desember 2012.
Bandingkan dengan Persikabo dan PSCS
Cilacap—dua wakil Grup II di babak 12 besar—yang sudah memersiapkan tim sejak
bulan Oktober. Bahkan, PSCS sudah melakukan deal dengan pemain lokal pada
pertengahan November 2012, di saat PSIS masih sibuk mencari pelatih.
Hasilnya, sejumlah pemain bidikan gagal
merapat. Perburuan pemain asing juga tak sesuai target. Emile Linkers yang
diharapkan bisa menjadi sumber gol, akhirnya harus terdepak karena tak mampu memenuhi
ekspektasi.
PSIS memang menggeliat di putaran kedua,
tapi itu belum cukup untuk membentuk karakter tim yang kuat. Hal ini juga
diakui Manajer Tim PSIS Setyo Agung Nugroho. Menurutnya, penampilan para pemain
di 12 besar mengalami antiklimaks. Karakter yang telah dibentuk sejak paruh
musim, seolah-olah luntur saat menghadapi lawan-lawan yang lebih tangguh.
“Sebagai manajer, saya bertanggung jawab
atas hasil kurang baik ini. Saya tidak akan mencari kambing hitam. Kini, masih
ada putaran kedua. Tugas kami adalah mencari jalan agar PSIS dapat tetap
berkiprah hingga musim selesai,” tandasnya.
Terlepas
dari hasil kurang memuaskan di putaran pertama 12 besar Divisi Utama PT Liga
Indonesia (PT LI) 2012/2013, ini adalah capaian terbaik sejak terdegradasi musim
2008/2009. Sebelumnya, pencapaian terbaik PSIS hanya mampu finis di papan
tengah penyisihan grup.
Selain
itu, manajemen yang mandiri tanpa bantuan APBD pemerintah setempat juga menjadi
nilai tambah tersendiri. Bahkan, mereka mampu menggandeng sejumlah sponsor
untuk membiayai operasional tim sepanjang mengarungi kompetisi.
Bagaimanapun,
impian untuk kembali berlaga di kompetisi Indonesia Super League masih tetap
terjaga. Tapi, jika masih saja mengulang kesalahan yang sama, asa itu akan
selamanya hanya sebatas mimpi. (twu)
(HARSEM)

.jpg)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !